bangun pagi emang enak, terutama kalo nggak ada gangguan sembelit yang ngebuat perut terus melilit, D#MN!
sperti biasa, alarm di gadget andalan gw udah bunyi tepat pukul 6.30 pagi tapi emang dasar gw nya, mirip kata radio tetangga, "kadang bisa kurang, kadang bisa lebih"
yups, ---rutinitas baru---
"ngulet di tempat tidur"
ritual ini jadi hal yang paling OK buat gw lakuin di pagi hari menyusul tuntutan gw harus bangun on time sebelum dosen berkokok tanda waktu kuliah udah di mulai,
hari ini hari pertama gw masuk kuliah setelah libran panjang yang tentu aja melelahkan, penuh dengan rutinitas dengan pekerjaan terberat yang harus gw lakuin dan itu
TIDUR
hahaha
semangat pagi beradu dengan sisa tengat waktu gw harus hadir di kelas kampus tercinta gw di pinggiran jalan sudirMEN jam 7, dan itu adalah kelas operating research 1-----> atau bahasa kerennya penelitian operasi 1, ngebuat gw sukses kekampus sekali lagi nggak mandi, well se inget gw itu semester 3 hahaha
mayoritas dalam satu tahun penuh itu, gw lewatin dengan rutinitas bangun tidur ku terus lari
bukan bangun tidur ku terus mandi hahahaha
sssstttt ini jadi cerita tersendiri ya hahaha
gw susurin jalan setapak penuh dengan rintangan,
mulai dari tukang bubur ayam,
dengan hati teguh gw lewatin dia, "nggak engak, nggak enak"<---- dalem pikiran
rintangan kedua, lontong sayur
ngiler juga sih liat ni makanan, tp tetep, "gw nggak mau telat di hari pertama gw"
rintangan ke tiga warung indomie
OK
lets stop for a while hahahaa
emang ni makanan BANGSAWAN KOSTAN jadi andalan saat pinggang kudu di kecilin hahahaha alias diet ketat demi ngebeli suatu barang
dan setelah gw sukses makan dengan lahap, gw ngeliat jam, masih ada 10 menit sebelum batas molor gw abis hahaha
dan gw sampe tepat waktu di kampus, sehat walafiat dan yang penting perut gak udah keisi,
gak pake lama gw milih tempat duduk di samping temen gw, sohib gw dan saling cerita tentang liburan, kocak ngakak udah jadi cerita selanjutnya
selang 5 menit, dosen dateng,
"hew pertama neh gw liat makhluk dengan postur kecil dengan baju kedodoran dengan muka serem brasa mau bunuh orang"
sesi perkenalan dan gw masih terus cerita n senyum2 gak jelas sama cerita kocak temen gw
nggak sampe 5 menit gw udah di usir keluar sambil di katain "BODAT KAU!"
---gw masih nggak ngeh---
kalimat kedua tidak sesai denga EYD atau Ejaan Yang Di tuakan
"MONYET KAU"
gw masih senyum senyum
sambil liat ke belakang
"hei KAU MONYET yang baju merah"
"kenapa kau dari tadi senyum-senyum"
gw nunjuk diri gw sendiri sambil nggak percaya kalo gw yang di maksud
"IYA!!! KAU, jangan kau senyum-senyum sendiri, keluar kau!"
glekkkkk
akhirnya gw sukses diem krn di ancem keluar kelas
nggak sampe 5 menit d kampus, hari pertama gw udah mau di usir keluar
SMOGA TEMEN GW YANG TERLIBAT BEGITU BACA INI BISA NGAKU DOSA....
SUEK LO....
seketika, gw tau, kalo nasib gw nggak akan bagus semester ini di mata kuliah ini, dan akhirnya emang bener,
nilai dari si kumis ini keluar E bulet.... n gw nggak ngerti kenapa nilainya rata 47 gerrrrrrrrrrrr
pengen gw gigit ni kumis satu hahaha
tp ya udah lah
semester berikutnya gw ngulang n dapet A hahahaha
*saran gw, jangan ketawa atau senyum-senyum kalo dosen kumisan di depan lagi ngomong, ntar dia ke ge er an di kira lagi senyumin kumisnya yang di kira seksi mirip pak raden!---tengil---
HAHAHAHAHA
asal usul monyet
meski waktu tak membalas
mungkin sepasang sayap terbang tidak akan mampu membawa luka ini pergi,
hanya sebuah rasa sesak di dada yang mungkin masih bergulir tiada henti,
mungkin hanya dengan menghitung setiap detik yang pernah terlewatkan dapat mengembalikan setiap peluh dan rasa yang dulu pernah terbuang percuma, sebuah puisi yang banyak menggambarkan titik terjenuh dalam hidpku, dimana hari hari yang ceria kini seperti tertutup awan kelabu.
dia adalah seorang perempuan yang kucinta,
bagiku dialah embun pagi
bagiku dialah mentari hari
baginya aku bangun pagi dan menatap mentari pagi dan tersenyum lagi
dan baginya, bulan malam tersibak menyinari
kuangankan stiap mimpiku padanya
berharap sebuah keajaiban dapat terulang
dialah jawaban atas doaku
dialah jalan keluar dari liku ceritaku
ku tatap langit malam dan bintang pun menari menari
menyambut pergantian hari demi hari
seolah kegirangan yang mungkin hanya terjadi sekali
bagiku dialah musim semi
padang bunga dengan angin semilir menghembus pipi
semerbak harum dari tubuhnya yang tak kan pernah terlupa
membuat diri ini semakin terpana atas keajaiban di depan mata
ternyata kepakan sayapk tidak sia-sia
ternyata dia membalasnya
bak gayung bersambut
dia membalas setiap 'rasa' yang tercipta
kgantngkan hati pada cinta tak bertuan
tanpa keragan dan tanpa alasan
walau hanya berkata 'aku hanya teman'
dia memberi lebih dari sekedar kecupan
darinya kurasakan hangat mentari
dari peluknya kurasakan semilir hangat merambat naik kedalam dada
mencairkan apa yang dulu tlah beku dan selalu berpindah
dari tubuhnya kurasa harum padang bunga
dari suaranya kudengar melodi terindah
dia yang dulu ku cinta,
tanpa keraguan dan tanpa alasan
dia yang dulu ku cinta
belai rambutnya hangatkan dunia
dia yang dulu ku cinta
hangat peluknya yang lelehkan hati di dada
dia yang dulu pernah ku cinta
bahkan hingga kini masih ku rindukan teduh mata coklatnya
dialah jiwa liarku
melali petualangan ku keluar dari liku ceritaku
dan membuat labirin lain,
dia yang membawaku berpetualang kedalam hutan terkelam
menuntunku masuk dan meninggalkank tersesat,
dan ku sadar dialah yang membuatku menginginkannya, lebih dari apapun,
ku teringat stiap kecpan hangat yang terjadi,
ku teringat stiap pelukan pada tubuh ini
namun skarang
ku tak mengenal jiwa itu,
ku tak mengenal dia lagi,
dia yang dulu bagai padang bunga cinta di musim semi
kembali dengan stiap duri
smakin ku berusaha dekat dengannya smakin hati ini terluka tak terobati
smakin ku berusaha menggengamnya
duri itu smakin menusuk sampai kedalam urat nadi
ingin ku singkirkan stiap duri itu,
menghabiskan senja merah hanya bersamanya
ingin ku buang smua duri itu,
agar ku bisa memeluknya lagi
ingin ku hapus smua duri itu
agar luka dihati tak terasa lagi
namun skarang,
kemana harumnya
kemana stiap perhatian yang dulu pernah ada
kemana jiwa yang membuatku slalu merindukannya
dia yang telah pergi,
kusadari aku kini terus terbang sampai akhir dari tepi hati
dan skarang ku sadari bahwa musim tlah berganti
dia yang telah pergi bersama mimpi dan stiap kenangan yang pernah terjadi
sesaat hening hanya nafas tersengal-sengal berusaha menutupi pedih stelah puisi panjang ini ku tulis, dan aku hanya bisa berkata, aku tetap disini, meski waktu tak membalas.
keep smiling whenever its very hard to do,
^_^
